Logika filsafat dan saintifika
Maret, 15, 2021
Dari buku: filsafat ilmu, hal.46 yang berjudul:
"Logika filsafat dan saintifika"
Oleh: Syamsiar Nasution
E-mail: syamsiarnasution37@gmail.com
Mahasiswi PAI, FTIK, IAIN PADANG SIDEMPUAN
1. Pengertian logika, Teori, dan Contoh 1 ayat Al-Quran dan 1 Hadits.
a.Logika
Dimana logika secara luas dapat di defenisikan sebagai "pengkajian untuk berpikir secara sahih".[¹] Terdapat macam-macam cara penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah,kita akan melakukan penelaahan yang seksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan,yakin logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan di pihak lain,kita mempunyai logika deduktif, yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus).
Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yg di akhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antarvariabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.
Logika adalah sarana untuk berfikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berfikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar dari pada satu.
Tidak hanya de facto, menurut kenyataannya kita sering berfikir, secara de jure. Berpikir tidak dapat dijalankan semau-maunya. Realitas begitu banyak jenis dan macamnya, maka berpikir membutuhkan jenis-jenis pemikiran yang sesuai.pemikiran di Ikat oleh hakikat dan struktur tertentu, kendati hingga kink belum seluruhnya terungkap. Pemikiran kita tunduk kepada hukum-hukum tertentu.[²]
b.teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta . Selain itu, berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara "sementara" dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.
Istilah teoritis dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang diramalkan oleh suatu teori namun belum pernah terpengamatan. Sebagai contoh, sampai dengan akhir-akhir ini, lubang hitam dikategorikan sebagai teoritis karena diramalkan menurut teori relativitas umum tetapi belum pernah teramati di alam. Terdapat miskonsepsi yang menyatakan apabila sebuah teori ilmiah telah mendapatkan cukup bukti dan telah teruji oleh para peneliti lain tingkatannya akan menjadi hukum ilmiah. Hal ini tidaklah benar karena definisi hukum ilmiah dan teori ilmiah itu berbeda. Teori akan tetap menjadi teori, dan hukum akan tetap menjadi hukum.
c. ~Contoh ayat Al-Quran
وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗقُلِ الْحَمْدُ لِلهِ ۗۗبَله
Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, ”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, ”Allah.” Katakanlah, ”Segala puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak tahu.(QS. Luqman/31:25).[³]
~Contoh hadits
ان رجلاالى رسول الله صلعم فقال يرسول الله كلمات اعيش بهن ولا تكثر علي فانس فقال رسول الله صلعم لا تغضب
Artinya: "ada seseorang datang kepada Rosulullah saw dan berkata, ajari aku ya Rosulullah kata-kata,darinya bisa saja jadikan panduan hidup, tetapi jangan banyak-banyak membuat saya lupa. Rosulullah bersabda: jangan marah."
[¹] Juju S.Suriasumamantri, filsafat ilmu sebuah pengantar populer,(Jakarta:2000) hal.46.
[²] Amsal Bakhtiar,filsafat ilmu,(Jakarta:2014) hal.212-213.
[³] Sehat Sultoni Dalimunthe,filsafat ilmu,( Depok:2011) hal.5-6.
2.Perbedaan logika filsafat dengan saintifika beserta contohnya.
Beberapa ciri pembeda antara pemikiran Filsafat dengan pemikiran keilmuan adalah:[⁴]
Pemikiran filsafat
1.Merefleksikan dan menghasilkan pertanyaan
2.Rasionalis yang bersumber pada kekuatan ide
3.Universal dimana ruang lingkup pemikiran tidak terbatas
4.Tidak harus diuji kebenarannya karena lebih bersifat refleksi atas realitas
5.Mempertanyakan penjelasan yang diberikan atas suatu permasalahan.
Pemikiran keilmuan (saintifika).
1.Menghasilkan pengetahuan melalui metode ilmiah
2.Empiris yang mendasarkan pada kekuatan panca indera
3.Spesifik dimana cakupan kajian terkait dengan disiplin keilmuan
4.Harus diuji kebenarannya melalui upaya empiris-metodologis
5.Memberi penjelasan atau dugaan secara empiris terhadap pemasalahan.
Pembedaan antara pemikiran filsafat dengan pemikiran keilmuan tersebut di atas, adalah sebagaian dari perbedaan yang ada. Namun, secara mendasar, pembedaan tersebut sudah mencakup hal-hal pokok dalam pemikiran filsafat dan pemikiran keilmuan.
Meski dikatakan sebagai suatu perbedaan, namun, antara pemikiran filsafat ddengan pemikiran keilmuan, memiliki titik singgung yang saling sinergi. Sebagaimana pada paparaan jawaban soal no.1, bahwa metode keilmuan sebagai dasar pengembangan ilmu, pada hakekatnya sebuah proses. Titik singgung antara pemikiran filsafat dengan pemikiran keilmuan, terbentuk dalam “ikatan perkawinan” antara rasionalisme dengan empirisme. Hasil dari ikatan perkawinan ini sudah dibuktikan dalam penyelidikan yang dilakukan oleh Galileo (1564-1642) dan Isaac Newton (1642-1727).
Metode kelimuan merupakan cara berpikir dalam mencari pengetahuan. Namun faktor apa yang menyebabkan manusia berpikir. Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah, manusia berpikir ketika manusia sedang menghadapi masalah dimana manusia akan memusatkan perhatiannya dan tenggelam dalam samudera berpikir. Pada hakekatnya masalah merupakan suatu pertanyaan yang mengandung jawaban. Sebuah pertanyaan memiliki kemungkinan untuk dapat dijawab dengan tepat apabila pertanyaan dirumuskan dengan baik. Perumusan masalah secara baik, merupakan langkah awal pertama dalam kegiatan keilmuan. Bagaimana kita mampu memberi jawaban yang tepat, jika pertanyaannya tidak diajukan dengan jelas?
Maka, simpulan yang dapat diperoleh adalah, melihat inti dari titik singgung antara pemikiran filsafat dengan pemikiran keilmuan, bahwa pemikiran filsafat memberi dasar dalam mengajukan pertanyaan yang tepat yang selanjutnya akan dilanjutkan oleh pemikiran keilmuan melalui langkah-langkah metodologi untuk menjawab pertanyaan. Ketika titik singgung tersebut dapat diwujudkan, maka jawaban atas pertanyaan yang merupakan hasil kerja pemikiran filosofis, akan dapat diterima oleh publik karena mendapat jawaban melalui pemikiran keilmuan.
Contoh : Contoh Logika
Inilah beberapa contoh logika yang sederhana, misalnya ada kalimat atau pernyataan yang tidak masuk akal, jadi pernyataan tersebut tidak dijelaskan dan penalarannya tidak benar. Misalnya seperti “manusia bisa menahan nafas sampai 5 jam” jelas pernyataan tersebut tidak benar nyatanya menurut penelitian rata-rata manusia normal bisa menahan nafas selama 30-60 detik dan otak manusia normal akan mengalami kerusakan secara permanen setelah 4 menit jika tidak mendapat oksigen.
[⁴]J.M.Bonchenski,Philosophy : An Introduction (Harper & Row, New York, 1972 : 53-62).
3.Logika filsafat dan Saintifika dalam pendidikan islam.
~ Logika filsafat dalam pendidikan islam
Filsafat pendidikan Islam adalah konsep berfikir tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan pada ajaran Islam tentang kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. Kajian filosofis yang digunakan filsafat pendidikan Islam mengandung
arti bahwa filsafat pendidikan Islam itu merupakan pemikiran yang mendalam,
sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti hakikat
pendidikan Islam.
Filsafat pendidikan Islam berdasarkan wahyu, tidak semata berpijak humanistik, tidak mengenal kebenaran terbatas, tapi universal. Berusaha mengembangkan pandangan yang integral dan mengintergralkan pandangan antara dunia dan akhirat sekaligus. Filsafat
pendidikan Islam mengembangkan semuaaspek kepribadian, mulai akal, intuisi, akal budi dan inderawi. Ide-ide filsafat pendidikan Islam selain bersifat teoritik juga realistik yang dapat diwujudkan dalam tingkah laku, dan mudah transformasikan dalam
kehidupan.
Filsafat pendidikan pada umumnya dinyatakan bahwa filsafat pendidikan
dipandang sebagai pembahasan yang sistematis tentang masalah-masalah pendidikan
pada tingkat filosofis, yaitu menyelidiki suatu persoalan pendidikan sehingga direduksi
kedalam pokok bahasan metafisika, epistimologi, etika, estetika maupun kombinasi dari
semuanya itu.[5]
Dalam pembahasan filsafat pendidikan, persoalan-persoalan tersebut dapat
disederhanakan ke dalam tiga persoalan pokok, yaitu pandangan mengenai realita yang
dipelajari oleh metafisika atau ontologi, pandangan mengenai pengetahuan yang
dipelajari oleh epistimologi, dan pandangan mengenai nilai yang dipelajari oleh aksiologi,
termasuk didalamnya etika dan estetika.[6]
[5]Harry S. Broudy, Building A Philosophy of Education (New Jersey: Englewood Cliffs, Prentice Hall, Inc, 1961), hal. 14.
[6]Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan (Sistem dan Metode) (Yogyakarta: FIP IKIP, 1987), hal.20.
~ Logika saintifika dalam pendidikan islam.
-Saintifika dalam pendidikan islam, yaitu dalam aspek pencapaian tujuan pembelajaran, pencapaian karakter yang diharapkan dalam pembelajaran PAI. Kemudian dalam menyusun kalimat dalam langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tuntutan pendekatan saintifik telah dituangkan dengan terurai meskipun indikator pencapaiannya belum terlihat secara jelas, dan juga sudah diterapkan meskipun ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan konsep pendidikan dan perlu mendapat perhatian yang lebih serius.