pendekatan mencari kebenaran
Pendekatan Mencari Kebenaran
Oleh Syamsiar Nasution
ABSTRAK
The discussion of epistemology is more focused on sources knowledge
(the origin of knowledge) and theories about truth (the theory of truth)
knowledge. Discussion the first has to do with a question what that knowledge
comes from the mind alone ('Aqliyyah), sense experience (tajribiyyah),
criticism (naqdiyyah) or intuition (hadasiyyah). Meanwhile, the second
discussion focused on the question whether The "truth" of knowledge
can be described by correspondence, coherence or practical-pragmatic patterns. Furthermore,
the discussion in epistemology experiences development, namely the discussion
is focused on
sources of knowledge, processes and methods to acquire knowledge,
a way to prove the truth
knowledge, and the levels of truth of knowledge. This article
attempts to explore the position of knowledge and truth. What is the nature and
source of knowledge? How is the truth in the view of the philosophy of science?
What are the sources of knowledge and deep truth
a philosophical perspective
Keywoard: logika,
Filsafat, Fuzzy Logic
ABSTRAK
Pembahasan epistemologi lebih terfokus pada sumber
pengetahuan (the origin of knowledge) dan teori tentang kebenaran (the theory
of truth) pengetahuan. Pembahasan yang pertama berkaitan dengan suatu
pertanyaan apakah pengetahuan itu bersumber pada akal pikiran semata
(‘aqliyyah), pengalaman indera (tajribiyyah), kritik (naqdiyyah) atau intuisi
(hadasiyyah). Sementara itu, pembahasan yang kedua terfokus pada pertanyaan
apakah “kebenaran” pengetahuan itu dapat digambarkan dengan pola korespondensi,
koherensi atau praktis-pragmatis. Selanjutnya, pembahasan dalam epistemologi
mengalami perkembangan, yakni pembahasannya terfokus pada sumber pengetahuan,
proses dan metode untuk memperoleh pengetauan, cara untuk membuktikan kebenaran
pengetahuan, dan tingkat-tingkat kebenaran pengetahuan. Artikel ini mencoba
mengeksplorasi kedudukan pengetahuan dan kebenaran. Apa hakekat dan sumber
pengetahuan? Bagaimana kebenaran dalam pandangan filsafat ilmu? Apa
sumber-sumber pengetahuan dan kebenaran dalam perspektif filsafat.
Kata Kunci: Logika Filsafat
PENDAHULUAN
Dalam lintas
sejarah, manusia dalam kehidupannya senantiasa sibukkan oleh berbagai
pertanyaan mendasar tentang dirinya. Pelbagai jawaban yang bersifat spekulatif
coba diajukan oleh para pemikir sepanjang sejarah dan terkadang jawaban-jawaban
yang diajukan saling kontradiksif satu dengan yang lainnya. Perdebatan mendasar
yang sering menjadi bahan diskusi dalam sejarah kehidupan manusia adalah
perdebatan seputar sumber dan asal usul pengetahuan dan kebenaran. menjawab
permasalahanpermasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya. Manusia
hidup di dunia ini pada hakekatnya mempunyai keinginan untuk mencari
pengetahuan dan kebenaran. Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha
manusia untuk tahu. Pengetahuan menurut arti sempit sebuah keputusan yang benar
dan pasti.2 Penganut pragmatis, utamanya John Dewey tidak membedakan antara
pengetahuan dan kebenaran (antara knowledge dan truth). Hal inilah yang kemudian menjadi kajian
menarik epistemologi. Epistemologi sebagai cabang dari ilmu filsafat
mempelajari batas-batas pengetahuan dan asal-usul pengetahuan serta di kriteria
kebenaran. Kata ‘epistemologi’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari
dua kata, yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu, pikiran, percakapan).
Jadi epistemologi berarti ilmu, percakapan tentang pengetahuan atau ilmu
pengetahuan. Pokok persoalan dari kajian epistemologi adalah sumber, asal mula,
dan sifat dasar pengetahuan; bidang, batas jangkauan pengetahuan.
Oleh sebab itu, rangkaian
pertanyaan yang biasa diajukan untuk mendalami permasalahan yang dipersoalkan
di dalam epistemologi adalah; apakah pengetahuan itu, apakah yang menjadi
sumber dan dasar pengetahuan? Apakah pengetahuan itu adalah kebenaran yang
pasti ataukah hanya merupakan dugaan? . Dengan kata lain, epistemologi berarti
“studi atau teori tentang pengetahuan” (the study or theory of knowledge).
Namun, dalam diskursus filsafat, epistemologi merupakan cabang dari filsafat
yang membahas asal usul, struktur, metode-metode, dan kebenaran pengetahuan.
Selain itu, dapat pula dikatakan bahwa epistemologi adalah cabang dari filsafat
yang secara khusus membahas “teori tentang pengetahuan
A. Teori Pengetahuan dan Kebenaran
Hendrik Rapar, mengemukakan bahwa jenis
pengetahuan itu dibagi tiga. Sedangkan Burhanuddin Salam, sebagaimana dikutip
oleh Amsal Bakhtiar jenis pengetahuan ada empat, yaitu: Pertama, pengetahuan
biasa. Pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan sebagai common sense, dan
sering diartikan sebagai good sense, karena seseorang memiliki Sesutu di mana
ia menerima secara baik. Semua orang menyebut warna ini putih karena memang itu
merah. Air itu panas karena memang dipanasi dengan api. Makanan bisa mengganjal
rasa lapar, dll. Common sense diperoleh dari pengalaman sehari-hari.
Pengetahuan ini disebut dengan pengetahuan pra ilmiah dan nir ilmiah . Kedua,
pengetahuan ilmu (science). Adalah pengetahuan yang diperoleh lewat penggunaan
metode-metode ilmiah yang lebih menjamin kepastian kebenarannya. Ilmu pada
hakikatnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan commons sense, suatu
pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan
sehari-hari. Namun, dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti
dengan menggunakan berbagai metode. kritis dan
penafsiran
. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada
universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu
bidang pengetahuan yang sempit dan rigit, filsafat membahas hal yang lebih luas
dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan
kritis, sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar
kembali. Keempat, pengetahuan agama. Pengetahuan yang hanya diperoleh dari
Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib
diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang
pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan, yang disering
disebut dengan hubungan secara vertikal (hablun min Allah), dan cara
berhubungan dengan sesama manusia (hablun min al-nas). Pengetahuan agama yang
paling penting adalah pengetahuan tentang tuhan, selain itu tentang keyakinan
(keimanan) dan syariat (implementasi dari keyakinan). Pengetahuan ini sifat
kebenarannya adalah mutlak karena berasal dari firman Tuhan dan sabda Nabi.[1]
B. Teori-Teori Kebenaran
Purwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia,
menerangkan bahwa kebenaran itu adalah 1). Keadaan (hal dan sebagainya) yang
benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya. Misalnya kebenaran
berita ini masih saya ragukan, kita harus berani membela kebenaran dan
keadilan. 2). Sesuatu yang benar (sugguh-sugguh ada, betul-betul hal demikian
halnya, dan sebagainya). Misalnya kebenaran-kebenran yang diajarkan agama. 3).
Kejujuran, kelurusan hati, misalnya tidak ada seorangpun sanksi akan kebaikan
dan kebenaran hatimu.
Sedang menurut Abbas Hamami, kata “kebenaran”
bisadigunakan sebagai suatu kata benda yang konkrit maupun abstrak. Jika subyek
hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar. Proposisi
maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement.
Adanya kebenaran itu selalu dihubungkan dengan pengetahuan manusia (subyek yang
mengetahui) mengenai obyek.Jadi, kebenaran ada pada seberapa jauh subjek
mempunyai pengetahuan mengenai objek. Sedangkan pengetahuan bersal mula dari
banyak sumber. Sumber-sumber itu kemudian sekaligus berfungsi sebagai ukuran
kebenaran.[2]
Berikut ini adalah teori-teori kebenaran.
1. Teori
Korespondensi (Correspondence Theory of Truth)
Teori kebenaran
korespondensi, Correspondence Theory of Truth yang kadang disebut dengan
accordance theory of truth, adalah teori yang berpandangan bahwa
pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi terhadap fakta atau
pernyataan yang ada di alam atau objek yang dituju pernyataan tersebut. Kebenaran
atau keadaan benar itu apabila ada kesuaian (correspondence) antara rti yang
dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh
pernyaan atau pendapat tersebut.Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar
jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta.
Suatu proposisi adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan
menyatakan apa adanya. Teori korespondensi ini pada umumnya dianut oleh para
pengikut realisme. Di antara pelopor teori ini adalah Plato, Aristoteles,
Moore, dan Ramsey. Teori ini banyak dikembangkan oleh Bertrand Russell Teori
ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan. Teori
kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal, sehingga dapat
digolongkan ke dalam teori kebenaran tradisional karena Aristoteles sejak awal
(sebelum abad Modern) mensyaratkan kebenaran pengetahuan harus sesuai dengan
kenyataan atau realitas yang diketahuinya. Problem yang kemudian muncul adalah
apakah realitas itu obyektif atau subyektif? Terdapat dua pandangan dalam
permasalahan ini, realisme epistemologis dan idealisme epistemologis. Realisme
epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independen (tidak
tergantung), yang terlepas dari pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya
bila kita mengalaminya atau memahaminya. Itulah sebabnya realism epistemologis
kadangkala disebut objektivisme. Sedangkan idealisme epistemologis berpandangan
bahwa setiap tindakan berakhir dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa
subyektif.20 Kedua bentuk pandangan realistas di atas sangatlah beda. Idealisme
epistemologi lebih menekankan bahwa kebenaran itu adalah apa yang ada didunia
ide. Karenanya melihat merah, rasa manis, rasa sakit, gembira, berharap dan
sebagainya semuanya adalah ide. Oleh sebab itu, idealisme epistemologis
sebagaiman didefinisikan di atas sama dengan subyektivitas. Kesimpulan dari
teori korespondensi adalah adanya dua realitas yang berada dihadapan manusia,
pernyataan dan kenyataan. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesesuaian antra
pernyataan tentan sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Misal, Semarang
ibu kota Jawa Tengah. Pernyataan ini disebut benar apabila pada kenyataannya
Semarang memang ibukota propinsi Jawa Tengah. Kebenarannya terletak pada
pernyataan dan kenyataan. Signifikansi teori ini terutama apabila diaplikasikan
pada dunia sains dengan tujuan dapat mencapai suatu kebenaran yang dapat
diterima oleh semua orang. Seorang ilmuan akan selalu berusaha meneliti
kebenaran yang melekat pada sesuatu secara sungguh-sungguh, sehingga apa yang
dilihatnya itu benar-benar nyata terjadi. Sebagai contoh, gunung dapat
berjalan.[3]
2. Teori
Koherensi (Coherence Theory of Truth)
Teori kebenaran
koherensi atau konsistensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada
kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai
dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara
logis. Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan
dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta dan realitas, tetapi atas hubungan antara
putusanputusan itu sendiri. Teori ini berpendapat bahwa kebenaran ialah
kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang
sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. Suatu
proposisi benar jika proposisi itu berhubungan (koheren) dengan
proposisi-proposisi lain yang benar atau pernyataan tersebut bersifat koheren
atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Dengan demikian suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian
(pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah
diketahui,diterima dan diakui benarnya. Karena sifatnya demikian, teori ini
mengenal tingkat-tingkat kebenaran. Disini derajar koherensi merupakan ukuran
bagi derajat kebenaran. Misal, Semua manusia membutuhkan air, Ahmad adalah
seorang manusia, Jadi, Ahmad membutuhkan air.[4]
C. Agama sebagai
Pendekatan Teori Kebenaran
Pada hakekatnya, manusia hidup di dunia ini adalah
sebagai makhluk yang suka mencari kebenaran. Salah satu cara untuk menemukan
suatu kebenaran adalah agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan
jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia; baik tentang
alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Dalam mendapatkan kebenaran menurut teori
agama adalah wahyu yang bersumber dari Tuhan.40 Manusia dalam mencari dan
menentukan kebenaran sesuatu dalam agama denngan cara mempertanyakan atau mencari
jawaban berbagai masalah kepada kitab Suci.
Dengan demikian, sesuatu hal dianggap benar
apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentuk kebenaran
mutlak. Menurut kaum rasionalisme, sumber pengetahuan manusia didasarkan pada
innate idea (ide bawaan) yang dibawa oleh manusia sejak ia lahir. Ide bawaan
tersebut menurut Descartes terbagi atas tiga kategori, yaitu; Pertama, Cogitans
atau pemikiran, bahwa secara øWURK manusia membawa ide bawaan yang sadar bahwa
dirinya adalah makhluk yang berpikir, dari sinilah keluar statement Descartes
yang sangat terkenal, yaitu cogito ergo sum yaitu aku berpikir maka aku ada.
Kedua, Allah Atau manusia secara WURK memiliki ide tentang suatu wujud yang
sempurna, dan wujud yang sempurna itu tak lain adalah Tuhan. Ketiga, Extensia
atau keluasan, yaitu ide bawaan manusia, materi yang memiliki keluasan dalam
ruang. Ketiga ide bawaan diatas dijadikan aksioma pengetahuan dalam filsafat
rasionalisme yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Dalam metode pencapaian pengetahuan
Descartes memperkenalkan metode yang dikenal dengan metode keraguan (dibium
methodicum) yaitu meragukan segala sesuatu termasuk segala hal yang telah
dianggap pasti dalam kerangka pengetahuan manusia. Aliran Empirisme disandarkan
kepada beberapa tokoh pemikir Barat diantaranya Francis Bacon, Thomas Hobbes,
David Hume, dan John locke.
John Locke memperkenalkan teori tabula rasa
(sejenis buku catatan kosong), maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya
kosong dari pengetahuan, lantas pengalamanya mengisi jiwa yang kosong itu,
lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu
sederhana lama-lama menjadi komplek, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Jadi
dalam empirisme, sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah dengan
pengalaman inderawi. Maka, empirisme sangat menekankan metode eksperimen dalam
proses pencapaian pengetahuan manusia. Seseorang yang tak memiliki satu jenis
indera tertentu maka ia ia tidak dapat memiliki konsepsi tentang pengetahuan
yang berhubungan indera tersebut.[5]
PENUTUP
Suprapto menjelaskan ilmu-ilmu alam
membatasi diri dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang dapat diamati.
Tentu saja kata pengamatan yang dimaksud lebih luas daripada hasil interaksi
langsung dengan pancaindera kita, yang lingkup kemampuannya sangat terbatas.
Banyak gejala alam yang hanya teramati dengan pertolongan alat bantu. Tuntutan
lebih lanjut bagi gejala alam yang lazim dibahas ilmu-ilmu alam adalah bahwa
pengamatan gejala itu dapat diulangi orang lain (reproducible). Jadi suatu gejala
alam baru akan terdaftar dalam perbendaharaan ilmu-ilmu alam setelah melalui
ujian berulang kali sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.
Pembatasan yang ketat tentang gejala-gejala alam yang lazim dibahas dalam
ilmu-ilmu alam itu tentu saja merupakan jaminan untuk membangun ilmu yang
tangguh. Akan tetapi dipihak lain hal itu berarti bahwa ilmu-ilmu alam terpaksa
melepaskan diri dari masalah-masalah yang mempunyai spektrum variabel yang amat
luas, dimana karakteristik hasil pengamatan sangat tidak menentu, seperti
perangai manusia sebagai individu.
Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada
universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu
bidang pengetahuan yang sempit dan rigit, filsafat membahas hal yang lebih luas
dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan
kritis, sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar
kembali. Keempat, pengetahuan agama. Pengetahuan yang hanya diperoleh dari
Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib
diyakini oleh para pemeluk agama.
DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin,(2000), Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi
Aksara
Jan Hendrik,
(2002), Pengantar Filsafat, Yogyakarta; Kanisius, cet. 6
Sehat
Sultoni,(2010), Islam Agama Kesehatan.
Bekasi: Fima Rodheta
Susanto,(2011) Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam
Dimensi Ontologis, Epistemolog dan Aksiologis, Jakarta: Bumi Aksara
Ahmad,
(2002),Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Catra, Bandung: Remaja
Rosdakarya,
[1] Burhanuddin, Pengantar
Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000),Hlm.90.
[2] Jan Hendrik, Pengantar
Filsafat, (Yogyakarta; Kanisius, cet. 6, 2002),Hlm.76.
[3] Sehat Sultoni, Islam
Agama Kesehatan. (Bekasi: Fima Rodheta, 2010),Hlm.90
[4] Susanto, A., Filsafat Ilmu: Suatu
Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemolog dan Aksiologis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011),Hlm.54.
[5] Ahmad, Filsafat
Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Catra, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002),Hlm.29.